Satu Malam yang Tak Lagi Gelap
Aku menyangka Engkau akan mengajakku malam ini. Aku salah. Engkau bilang, “Bersabarlah, ini bukan malam kita.”
Dua gelas tanpa anggur dan mangkuk dingin tanpa sisa makanan saling bertanya pada dirinya sendiri. “Ada apa? Ada apa?”
Obrolan digelar tanpa kata-kata, tanpa gugatan. Bahasa telah tercerabut dari kamus yang menopangnya. Juga airmata dari kelopak penampungnya.
“Apa yg kaupikirkan, Sayang”, kataku. “Engkau takkan pernah bisa mengerti!”, engkau membalas. Hanya gelas dan mangkuk mendengarnya seksama.
“Tik tok, Tik tok”, jam dinding menimpali sekenanya. Ia tak tahan lagi menduga, ia tak mau menerka-nerka. Ketukan jemarimu senada dengannya.
“Aku..”, engkau tak meneruskannya dan berlalu, meninggalkan jejak airmata di taplak meja hitam yang tak sengaja kupasang malam ini.
Subuh ini kupikir kiamat akan terjadi. Tapi mungkinkah ia mampu membuatmu kembali dan menghambur ke pelukanku sambil berkata, “Aku takut..”?
Punggungmu diam mengucap kata-kata yang terlanjur tanak. Tidak indah, namun cukup membangun pusara di hatiku. Selamanya.