Izinkan Aku Meminjam Gelisahmu

Kupelajari isyarat langit yang
semakin menghitam-membiru
Rembulan menyendiri
ditinggalkan sepi yang sunyi

: Apakah tadi malam
tangis tumpah di dadamu?

Telah kususuri jalan berkerikil
dari halaman rumahmu sampai sumur kering
tak lagi dipakai mandi
Orang tak lagi menyapa dengan senyum
Bibir mereka kebas dari derita
tak kunjung lepas

: Batu mana membuatmu terjatuh
dengan luka tak kunjung kering?

Aku gagal bermimpi dan mencatat
sebuah ingatan
Bola mata bulatmu
atau urai bulu-bulu halus kudukmu

: Di mana kau sembunyikan
lagu riang yang membuatmu menari
dalam hujan?

Bahuku tak sekuat jaring laba-laba
Dadaku hanya sebidang rindu memuja kepalamu
Aku tak mau
mengabadikan mendung di binar matamu
Cukuplah hanya aku

: Izinkan aku meminjam gelisahmu
malam ini saja

Advertisements
Comments
One Response to “Izinkan Aku Meminjam Gelisahmu”
  1. pramudito says:

    banyak ironinya, sepertinya anda ahli bermain dengan ironi-ironi yang lugas.
    tidak terlalu berat tulisannya, tidak mengobral kosakata. cocok!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: