Rumah Kita, Bunda

Pernah aku dan kamu bicara tentang rumah. Dan kita punya bayangan yang sama tentang rumah. Di sana, kita saling menemani. Di rumah itu, kita dapati bahwa surga tak lagi kita rindukan, tak lagi diperlukan. Karena kita telah mendiaminya. Di rumah itu, tempat yang hangat tetapi kaya. Kaya dengan kasih sayang dan senyuman anak-anak kita. Di … Continue reading

Aku Menyerah

Aku mengambang. Hampa tanpa lambang. Ada kisah yang terbayang di sudut bimbang. Aku hampir menyerah. Setelah pedang terhunus. Detik detik ragu merambat dari pangkal, menjilati bagian yg tajam menjadikannya menumpul. Pasir berdebu tak dapat terkibas. Tangan kebas menebas tak guna. Gemuruh dada tak disangkal. Aku hampir menyerah. Pada detik yg hampir terlambat. Pedangku jatuh bersatu … Continue reading

Senja di Eboni Tua

Detik bergerak lambat pada dua hati mencinta senja Ada lariklarik kata yang bertahta… @kumabal: Rindu tertanggal di telpon yang tak kau angkat semalam. Aku seragam kesepian tak berbalas kata, terluka oleh tak acuh gerikmu. @nugrahaarief: Membuncah. Masihkah luka sepi itu membekas? Intip jendelamu, sedari subuh ku kirim sepasang merpati maaf, menunggu senyummu. @kumabal: Pesan diterima. … Continue reading

Sajak Pagi

Sajakku terlampau dingin kubacakan. Itu kala rumput rumput masih saja berbilur kristal embun pagi, bergelayut manja. Dua pipit sejak tadi bercicit di tubir parit, meracau tentang angkasa yang elang rajai tanpa sulit. Mereka tertawa lalu diam. Di sudut zaal lain, tergolek tak berdaya. Lemah. Masih bingung beda tarik dan hembus nafas. Yang lain lagi hanya … Continue reading

Sungguh Ini Aku

Sungguh… tubuh ini semakin meringkih agar cukup rumah sederhana untukmu dan anakanakmu. Sungguh… mata ini akan menatap lebih lama dari biasanya, agar kau tahu mata ini mata cinta yang kupersembahkan untuk menghidupimu. Sungguh… genggaman tanganku akan semakin erat saat badai menggoyahkan. Tangan ini tangan yang selalu bisa kau andalkan. Sungguh… kaki ini akan kuat berjalan … Continue reading

Siapalah Aku

Siapalah aku… Tak perlu memicingkan mata. Lipat saja senyum getirmu. Aku terlanjur mencintai kata. Hanya itu. Tak lebih. Siapalah aku… Tak kudengar serapahmu sedekat apa itu. Aku tuli. Resahmu tak kuperlukan, karna anjing pun menggonggong. Siapalah aku… Aku tak mengerang karnamu. Tolong dengarkan sedekat lidah dengan gigimu. Cium selekat kotor hidungmu. Lalu, berkacalah. Siapalah aku… … Continue reading

Cinta di Tanda Baca

Aku, kamu; dua insan menulis cinta dengan tanda baca. Mengukir aksara CINTA sebelum titik mengakhirinya. Jika aku koma, kau pasti menjadi titik. Bersama kita buat kata melompat, tersungkur, menangis, lalu terbahak. Kita abadi di noktah terakhir. Jika kau titik, pasti aku koma. Berdua kita titik koma, yang menawar penghabisan menjadi jeda. Dan cerita tak menemu … Continue reading

Malam Beringsut

Malam mulai beringsut sedang pagi masih tergagap. Direlakannya cerita yang tertuang pada nampan tanpa nama. Malam mulai beringsut dan doa ibu tercekat pada bilangan jam. Dibiarkannya tuhan melanjutkan lirih doanya. Malam mulai beringsut sementara tangan berkerut kehabisan tenaga. Diikhlaskannya lembaran kecil rupiah di kantongnya. Malam mulai beringsut saat bulan masih hangat cercah gemintang. Mereka tahu … Continue reading

Larik Tuhan yang Menggugat

Ku temukan larik-larik suci berdebu pada kelopak dunia yang kian mengusam. Tersudut sendiri, menangis tanpa derai. Airnya tandas menanti tangan menjamah. Isaknya teredam dalam lara. Lima waktu tak cukup membuatnya dilirik, walau sejenak. Pernahkah bahkan sedikit teringat larik tuhan itu? Malam seperti cawan penyimpan muntahan durjana. Belulang kelu dirajam seharian. Mata tak sanggup, lalu relakan … Continue reading

Pada Hari Itu

Angin tak berlirih. Gunung gemeletuk terkutuk. Malaikat ketiga bersiap dg tiupan pamungkas. Diam. Terhenti. Lalu, MELEDAK! Semua senyap sejenak. Seketika berhambur perut bumi tak terperi. Jatuh. Tersungkur. Makhluk jumawa tenggelam bersama dosa. Jari tak lagi sempat menuduh. Mata nanar menyapu pandang melebihi debu tanpa saru. Bergidik tak terbayang, menangkap gambar tulang putih, tanpa darah. Maka, … Continue reading